Militer Filipina Selamatkan 3 Sandera Abu Sayyaf Asal Malaysia

Militer Filipina menyelamatkan tiga warga Malaysia yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Penyelamatan ini merupakan yang kedua kali dilakukan sebagai bagian dari operasi militer Filipina yang berlangsung dalam empat hari terakhir.

Seperti dilansir Reuters, Senin (27/3/2017), tiga warga Malaysia yang berjenis kelamin laki-laki itu diculik Abu Sayyaf sejak 8 bulan lalu. Tidak disebut identitas ketiga warga Malaysia yang baru saja diselamatkan itu.

Dalam pernyataannya, militer Filipina menyatakan ketiga warga Malaysia itu diselamatkan dari Pulau Jolo, Filipina bagian selatan pada Minggu (26/3) waktu setempat. Namun tidak dijelaskan lebih lanjut soal operasi itu.

Dengan penyelamatan ini, berarti tidak ada lagi warga Malaysia yang masih disandera Abu Sayyaf. Dua warga Malaysia lainnya yang disandera Abu Sayyaf, telah diselamatkan pekan lalu. Keduanya diidentifikasi sebagai Tayudin Anjut (45) dan Abdurahim Bin Sumas (62). BESTPROFIT

Baik Tayudin maupun Abdurahim diselamatkan dalam operasi militer Filipina di perairan wilayah Pulau Pata, Provinsi Sulu, Filipina selatan pada Kamis (23/3) dini hari waktu setempat. Kedua pria tersebut termasuk di antara lima awak kapal penarik (tugboat) Malaysia yang diculik para militan Abu Sayyaf pada 18 Juli 2016 lalu di perairan wilayah Sabah, Malaysia.

Abu Sayyaf memiliki reputasi sebagai salah satu kelompok militan paling brutal di dunia. Kelompok ini meminta uang tebusan untuk setiap sanderanya, dengan batas waktu tertentu. Jika uang tebusan tidak dipenuhi hingga batas waktu, Abu Sayyaf akan memenggal para sanderanya.

Dalam 8 bulan terakhir, seorang sandera asal Jerman dan dua sandera asal Kanada telah dipenggal Abu Sayyaf. Hingga kini, Abu Sayyaf diyakini masih menyandera sejumlah warga Filipina dan warga asing, seperti warga Indonesia, warga Jepang dan dan warga Belanda. BEST PROFIT

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana menyebut penculikan oleh Abu Sayyaf mempermalukan Filipina. Otoritas Filipina khawatir karena Abu Sayyaf diyakini berkomunikasi dengan kelompok militan di Timur Tengah, dengan tujuan mendirikan cabang kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di kawasan Asia Tenggara.

Advertisements