Sebelum subuh di Kalijodo

PT BESTPROFIT Salat tarawih baru saja selesai. Rabu (7/6) sekitar pukul 20.30 WIB, suasana di bawah jalan tol Pluit, mulai berdenyut. Sepeda motor hilir mudik melaju di antara bangunan-bangunan semi permanen terbuat dari triplek dan beratap asbes, yang berdiri di bawah jalan bebas hambatan itu. Walaupun semi permanen, ada salah satu bangunan yang cukup luas dan panjang. Dihiasi lampu beragam warna yang mencolok. Tapi kali ini, tidak ada lantunan musik dangdut koplo remix yang biasanya selalu terdengar saban malam.

Seorang wanita dengan kaos hitam dan celana jeans pendek sobek-sobek, melintas dengan membonceng motor matic putih bergaris hitam. Persis di depan salah satu bangunan mirip warung, dia turun dari motor dan langsung masuk ke dalam. Perempuan itu tidak sendiri, di dalam ada dua perempuan lain yang tampak asik berbincang dengan rokok di tangan.

Hampir setiap malam perempuan-perempuan itu diantar lelaki yang merangkap sebagai ‘calo’. Mereka tinggal di rumah kos yang disediakan bos yang biasa disapa Mami. Rumah kos mereka tak jauh dari lokasi tempat bekerja, masih di kawasan Kalijodo yang dulunya dikenal dengan sebutan Kali Angke. BESTPROFIT

Satu jam berlalu, para perempuan itu ke luar bangunan. Mereka duduk di tembok yang tak terlalu tinggi. Asap rokok mengepul dari bibir bergincu. Mata mereka mencoba memancing setiap lelaki yang melintas di depannya. Termasuk saat merdeka.com berjalan di depan bangunan itu.

“Yang anget mas, sini boleh yang anget,” ucap salah seorang perempuan. BEST PROFIT

Waktu beranjak malam beriringan dengan lalu lalang para pencari ‘kehangatan’. Pukul 23.00 WIB, tiga lelaki berboncengan sepeda motor, berhenti di depan perempuan malam yang sudah dua jam mondar mandir di depan warung. Mereka berbincang dengan sang perempuan. Tawar menawar dilakukan, dengan tarif yang sudah ditentukan Mami.

Setelah terjadi kesepakatan, mereka bergandengan masuk ke sebuah bangunan mirip gubuk di sekitar situ. “Biasanya kalau main (berhubungan badan) di dalam gubuk itu mas,” kata Dandi, salah seorang calo. Best Profit Futures

Satu jam berlalu, mereka keluar dari bangunan bersamaan dengan hembusan angin malam yang semakin dingin. Mereka masuk ke bangunan mirip warung. Beberapa botol bir dan minuman soda dipesan untuk menutup aktivitas tiga lelaki malam itu. Mereka ditemani sang perempuan dan mami.

Tak butuh waktu lama, gelas yang semula penuh berisi minuman alkohol kini telah kosong. Waktunya mereka pulang, sebelum subuh datang. Malam itu, hanya tiga lelaki yang melakukan transaksi. Menurut Dandi, mungkin alasannya karena bulan Ramadan.

“Biasanya sih ramai di sini kalau hari biasa, cuma karena ini lagi bulan puasa aja jadi sepi,” ucapnya.

Tiba-tiba seorang perempuan bertubuh gempal menghampiri. Malam itu dia belum mendapat pelanggan. Dia lantas menawarkan jasanya. “Mau main (hubungan badan) enggak mas?,” tanya dia.

Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyum dan gelengan kepala. Mengetahui itu, dia langsung beranjak pergi. Mendekati subuh, suasana di sana semakin sepi. Suara lalu lalang mobil di atas jalan tol mengantar mereka kembali ke rumah kos. Pukul 03.00 WIB, tak ada lagi aktivitas di sana selain beberapa pedagang yang beristirahat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s